Ilustrasi pendaki. (Eliani Kusnedi)
INDOZONE.ID - Hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius. Bukan sekadar kedinginan biasa, tapi sudah masuk kondisi darurat medis karena bisa mengganggu kerja jantung, otak, dan organ penting lainnya.
Kasus hipotermia sering terjadi saat aktivitas di suhu dingin, terutama saat mendaki gunung. Makanya, penting bagi pendaki atau yang sering aktivitas outdoor untuk paham gejala dan cara penanganannya sejak awal.
Baca juga: Penelitian Ungkap Manfaat Berkemah untuk Kualitas Tidur
Gejala hipotermia dibagi jadi tiga tahap, dari yang ringan sampai berat. Semakin parah, risikonya juga makin tinggi.
Terjadi saat suhu tubuh mulai turun di kisaran 35 sampai 32 derajat Celsius.
Gejalanya antara lain:
Pada tahap ini, banyak orang masih suka ngeyel karena merasa hanya kedinginan biasa.
Baca juga: Kutil di Tangan atau Kaki? Ini Cara Menghilangkannya dengan Benar
Terjadi saat suhu tubuh turun ke 32 sampai 28 derajat Celsius.
Gejalanya antara lain:
Pada fase ini, kondisi sudah cukup berbahaya dan butuh penanganan cepat.
Kondisi berat ini terjadi saat suhu tubuh di bawah 28 derajat Celsius.
Gejalanya:
Pada bayi, tanda hipotermia bisa berupa tubuh dingin, terlihat lemas, lebih diam dari biasanya, dan tidak mau makan atau menyusu.
Baca juga: Cara Mencegah Bau Mulut dengan Mudah dan Efektif, Dijamin Lebih Percaya Diri
Hipotermia harus segera ditangani tenaga medis. Tapi sambil menunggu bantuan datang, kamu bisa lakukan pertolongan pertama ini.
Jika korban tidak sadar, tidak bernapas, atau tidak ada denyut nadi, bisa dilakukan CPR. Tapi ingat, jangan berikan makan atau minum dalam kondisi tidak sadar.
Baca juga: Jangan Sepelekan! Ini Tanda Obesitas pada Anak dan Cara Mengatasinya
Hipotermia bukan kondisi yang bisa dianggap sepele. Jika telat ditangani, risikonya bisa berujung komplikasi serius seperti kerusakan jaringan, gangguan saraf, hingga kematian.
Bagi kamu yang hobi naik gunung atau aktivitas outdoor, pengetahuan ini bukan hanya penting, tapi bisa jadi penyelamat nyawa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Alodokter