Selasa, 01 JULI 2025 • 15:05 WIB

Paru-Paru Basah: Waspadai Kebiasaan Sehari-Hari yang Bisa Memicu Pneumonia

Author

Paru-paru (Pixabay/Gerd Altmann)

INDOZONE.ID - Paru-paru basah, atau yang dikenal dalam istilah medis sebagai pneumonia, bukan cuma penyakit ‘orang tua’. Nyatanya, penyakit ini juga bisa menyerang anak muda dan bukan karena tidur pakai kipas angin.

Pneumonia adalah infeksi yang bikin kantung udara (alveoli) di paru-paru meradang dan terisi cairan atau nanah. Gejalanya bisa mulai dari batuk parah, demam, sampai sesak napas. Yang sering terlewat, ternyata ada banyak kebiasaan sehari-hari yang diam-diam bisa memicu pneumonia. Yuk, cek daftarnya!

1. Merokok Bikin Paru-Paru Rentan

Baik jadi perokok aktif maupun pasif, asap rokok tetap berbahaya. Zat kimia di dalamnya bisa merusak jaringan paru dan bikin tubuh lebih gampang kena infeksi, termasuk pneumonia.

Penelitian menunjukkan bahwa perokok memiliki risiko lebih tinggi terkena pneumonia karena paru-parunya sudah dalam kondisi yang lebih rapuh akibat paparan asap yang terus-menerus.

2. Tinggal di Daerah Polusi? Waspadai Risiko Tersembunyi

Hirup udara penuh polusi setiap hari bisa jadi bom waktu buat kesehatan paru-paru. Partikel berbahaya dari kendaraan, pabrik, dan debu bisa mengendap dan menurunkan daya tahan paru.

Anak-anak dan lansia paling rentan, tapi orang muda juga enggak kebal. Penelitian menunjukkan, semakin tinggi paparan polusi, makin besar juga risiko infeksi saluran pernapasan.

Baca juga: Penelitian: Polusi Udara Picu Kanker Paru-Paru pada Non-Perokok di Indonesia

3. Jarang Cuci Tangan Bisa Picu Penyakit Serius

Ilustrasi mencuci tangan. (Freepik)

Virus dan bakteri penyebab pneumonia bisa menempel di benda sehari-hari dan masuk ke tubuh lewat tangan yang tidak bersih. Makan tanpa cuci tangan atau menyentuh wajah setelah pegang ponsel tanpa bersih-bersih bisa jadi jalur infeksi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir adalah salah satu langkah paling efektif untuk mencegah pneumonia dan penyakit menular lainnya.

4. Pola Makan Nggak Seimbang

Suka jajan sembarangan dan jarang makan sayur bisa bikin daya tahan tubuh lemah. Kurang asupan vitamin C, D, dan zinc membuat tubuh lebih rentan diserang virus dan bakteri.

Penelitian menunjukkan, nutrisi yang cukup sangat penting dalam menjaga sistem imun agar bisa melawan infeksi pernapasan seperti pneumonia.

5. Kurang Gerak, Paru-Paru Ikut Mager

Malas gerak bisa bikin paru-paru jadi kurang optimal dalam bekerja. Olahraga membantu meningkatkan kapasitas paru-paru dan sirkulasi darah, yang sangat penting untuk menjaga sistem pernapasan tetap sehat.

Gaya hidup aktif terbukti bisa menurunkan risiko terkena infeksi saluran pernapasan, termasuk pneumonia.

6. Begadang dan Stres Bikin Imun Kacau

Tidur cukup dan kondisi mental yang stabil punya peran besar dalam menjaga daya tahan tubuh. Kurang tidur dan stres kronis bisa melemahkan sistem imun, bikin tubuh lebih rentan terserang infeksi.

Studi menunjukkan bahwa orang dengan tingkat stres tinggi atau yang sering begadang cenderung lebih mudah terkena pneumonia dan infeksi pernapasan lainnya.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Kalau kamu mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, demam tinggi, atau nyeri dada, jangan ditunda. Segera periksa ke fasilitas kesehatan untuk penanganan lebih lanjut. Pneumonia yang tidak ditangani dengan tepat bisa berujung komplikasi serius.

Baca juga: 3 Cara Efektif untuk Memperkuat dan Meningkatkan Kesehatan Paru-paru

Gaya Hidup Sehat Itu Investasi Paru-Paru

Paru-paru basah atau pneumonia bisa dipicu oleh berbagai kebiasaan yang tanpa sadar sering dilakukan. Merokok, paparan polusi, kurang olahraga, stres, pola makan yang buruk, hingga kebersihan yang diabaikan semuanya bisa jadi pemicu.

Mulai sekarang, yuk ubah gaya hidup jadi lebih sehat. Jaga paru-parumu, karena napas lega hari ini adalah jaminan hidup sehat di masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Webmd.com, Springer.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU