Jumat, 03 OKTOBER 2025 • 15:10 WIB

Gen Z Rentan Burnout? Cari Tahu Penyebab dan Solusinya Di sini!

Author

Ilustrasi pria sedang burnout. (Pexels/Tim Gow)

INDOZONE.ID - Bagi banyak anak muda, terutama Gen Z, burnout bukan sekadar lelah sesaat. 

Kepala cepat terasa penuh, energi habis lebih cepat, dan rasa penat muncul lebih intens dibanding generasi sebelumnya.

Gen Z hidup di dunia yang bergerak super cepat, di mana istirahat sering dianggap “membuang waktu”. 

Tekanan untuk selalu unggul, beradaptasi, dan berada di garis depan, ditambah notifikasi, deadline, dan target baru yang terus berdatangan, membuat waktu untuk recharge justru menimbulkan stres. 

Ekspektasi dari diri sendiri maupun lingkungan pun sering membuat pencapaian terasa tak pernah cukup.

Baca juga: Gen Z, Hati-hati! Kecanduan Main Game Online Bisa Percepat Risiko Stroke dan Diabetes

Apa itu Burnout dan Gejalanya?

Burnout adalah kelelahan fisik dan emosional yang menurunkan motivasi dan kinerja seseorang. 

WHO menyebutnya sebagai fenomena akibat stres kerja kronis. Tetapi bagi Gen Z, penyebabnya tak hanya kerja, tapi juga sekolah, pertemanan, dan ekspektasi diri.

Gejalanya dari burnout meliputi tubuh tetap lelah meski tidur cukup, sulit fokus, dan mudah marah walau diakibatkan oleh hal sepele. 

Jika gejala-gejala ini dibiarkan, bisa memicu gangguan tidur, sakit kepala, masalah pencernaan, bahkan rasa putus asa.

Baca juga: 5 Tanda Kamu Butuh Healing, Bukan Malas: Psikolog Ungkap Alasannya

Mengapa Gen Z Lebih Rentan Burnout?

Burnout sebenarnya bukan hal baru, tapi Gen Z mengalaminya lebih intens. Faktor-faktor berikut saling berinteraksi membentuk pola kelelahan yang unik.

1. Tekanan mental dari dunia digital 

Media sosial memang seru, tapi tekanan tampil sempurna dan takut ketinggalan (FOMO) bikin Gen Z sulit tenang.

2. Karir tak menentu 

Stabilitas finansial tidak pasti, kemampuan harus terus diasah, dan sebagian harus jalani beberapa pekerjaan sekaligus, sehingga waktu untuk diri sendiri tersita.

Baca juga: Sering Bikin Lelah, Begini 7 Cara Ampuh Mengatasi Overthinking Tanpa Drama

3. Tekanan akademik sejak di bangku sekolah 

Ujian dan ekspektasi tinggi membuat pelajar sulit punya ruang untuk istirahat. Beban mental bertambah, sementara kesehatan diri sering jadi prioritas terakhir.

4. Pekerjaan yang tidak sesuai ekspektasi 

Tempat kerja terkadang hanya fokus pada angka dan produktivitas. Alhasil, meski materi cukup, tetap terasa kosong dan tidak puas.

5. Hilangnya batasan antara jam kerja dan menikmati hidup 

Notifikasi nonstop, tugas yang tidak jelas, dan jam kerja tak terbatas membuat energi cepat terkuras dan turunnya motivasi.

Baca juga: Ternyata Ini Alasan Ilmiah Mengapa Kita Sering Déjà Vu

Lalu, Bagaimana Cara Mengatasi Burnout?

Walau makin banyak dialami Gen Z, burnout bisa diatasi. Kuncinya kombinasi strategi pribadi dan dukungan lingkungan.

1. Tetapkan batasan hidup 

Bagi waktu antara kerja, belajar, dan waktu pribadi. Kurangi penggunaan gadget supaya energi mental tidak terkuras terus-menerus.

2. Utamakan kesehatan mental 

Jangan ragu untuk minta bantuan profesional, misalnya konseling, terapi, atau dukungan mental lain yang mudah diakses.

Baca juga: Jerawat Membandel? Ternyata Probiotik Bisa Mengatasinya!

3. Lakukan digital detox 

Ambil jeda dari media sosial untuk ‘mengistirahatkan’ otak, menurunkan rasa cemas, dan meningkatkan kesadaran diri.

4. Ubah mindset tentang produktivitas 

Produktivitas bukan soal kerja nonstop, tetapi istirahat juga penting  Istirahat bukan berarti tidak produktif.

5. Dorong perubahan sistem 

Pemerintah, perusahaan, dan institusi pendidikan perlu memandang burnout sebagai isu kesehatan masyarakat. 

Baca juga: Fenomena Second‑Hand Stress: Kamu Ikut Stres Karena Mereka Juga Panik

Kebijakan yang mendukung hak pekerja muda dan mahasiswa—misalnya akses terapi mudah, program kesehatan mental, dan perlindungan ketenagakerjaan—membantu menciptakan generasi yang lebih sehat dan produktif.

Burnout memang menjadi tantangan nyata bagi generasi Z, tapi dengan kesadaran, batasan yang jelas, serta dukungan dari lingkungan sekitar, kondisi ini bisa dikelola. 

Mengutamakan kesehatan mental, menetapkan keseimbangan antara kerja dan hidup pribadi, serta berani mengambil jeda bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah cerdas untuk menjaga energi dan produktivitas jangka panjang. 

Dengan strategi yang tepat, Gen Z bisa tetap berprestasi tanpa kehilangan kualitas hidup dan kebahagiaan mereka.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Infiheal.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU