Minggu, 15 MARET 2026 • 09:15 WIB

Kenapa Saat Stres Perut Ikut Bermasalah? Ini Penjelasan dan Cara Atasinya

Author


Ilustrasi sakit perut. (Pexels/Sora Shimazaki)

INDOZONE.ID - Bagi sebagian orang, gangguan pencernaan kerap memburuk ketika mengalami stres berkepanjangan atau kecemasan. Hal ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara otak dan sistem pencernaan

Dalam dunia medis, hubungan ini dikenal sebagai gut-brain axis, yaitu jalur komunikasi antara otak dan usus. Kondisi tersebut menghubungkan pengaturan emosi dengan pergerakan usus, aktivitas sistem imun, serta keseimbangan mikrobioma.

Dikutip dari Medical Daily, ketika stres berlangsung secara kronis, berbagai gejala pencernaan dapat muncul atau semakin parah, seperti sakit perut, perut kembung, diare, hingga sembelit. 

Kondisi ini sering terlihat pada penderita irritable bowel syndrome (IBS). Gejalanya cenderung kambuh saat seseorang mengalami tekanan emosional, trauma, atau kecemasan berkepanjangan.

Memahami mekanisme biologis di balik hubungan antara stres dan kesehatan pencernaan, dapat membantu menjelaskan kenapa pengelolaan stres menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan.

Baca juga: 7 Minuman Herbal untuk Sakit Perut: Alami, Murah, dan Gampang Banget Dibikin!

Hubungan Stres dan Kesehatan Usus

Keterkaitan antara stres dan kesehatan pencernaan terjadi melalui gut-brain axis, sebuah sistem komunikasi dua arah yang melibatkan saraf vagus, sistem saraf enterik, serta sumbu hipotalamus–pituitari–adrenal (HPA).

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), stres tidak secara langsung menyebabkan IBS. Namun, stres dapat memperburuk gejala IBS, dan meningkatkan sensitivitas usus.

Ilustrasi stres (Pexels/Nathan Cowley)

Interaksi ini dapat memengaruhi beberapa fungsi penting pada saluran pencernaan, seperti:

  • Pergerakan usus (motilitas)
  • Sinyal rasa nyeri pada sistem pencernaan
  • Respons sistem imun di saluran gastrointestinal

Aktivasi kronis sumbu HPA, dapat meningkatkan produksi hormon stres seperti kortisol dan corticotropin-releasing hormone (CRH).

Kondisi ini dapat mengubah permeabilitas usus, atau yang sering disebut sebagai 'kebocoran usus', serta memicu aktivasi sel imun tertentu.

Perubahan tersebut juga memengaruhi sinyal serotonin, yaitu neurotransmiter yang sebagian besar, yakni sekitar 95 persen diproduksi di usus.

Serotonin berperan dalam mengatur pergerakan usus, suasana hati, nafsu makan, dan kualitas tidur.

Dalam jangka panjang, stres kronis dapat menghambat proses penyembuhan lapisan usus, memicu peradangan ringan, serta memperkuat siklus antara gangguan pencernaan dan kecemasan.

Gejala IBS yang Memburuk Akibat Stres

Gejala irritable bowel syndrome (IBS) sering kali semakin berat ketika seseorang mengalami tekanan psikologis.

Menurut American College of Gastroenterology (ACG), IBS ditandai oleh nyeri perut berulang yang disertai perubahan frekuensi atau bentuk tinja. 

Stres dapat meningkatkan sensitivitas viseral, yaitu kondisi ketika aktivitas normal usus terasa lebih menyakitkan atau tidak nyaman.

Baca juga: Ternyata Ini Penyebab Perut Sering Sakit di Pagi Hari

Stres juga dapat mengganggu pergerakan usus besar sehingga memicu beberapa jenis IBS, antara lain:

  • IBS dengan diare dominan (IBS-D)
  • IBS dengan sembelit dominan (IBS-C)
  • IBS tipe campuran

Selain itu, kewaspadaan emosional yang berlebihan, membuat seseorang lebih peka terhadap sensasi pada saluran pencernaan.

Hal ini dapat memperparah rasa tidak nyaman, dan meningkatkan keinginan mendadak untuk buang air besar.

Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, siklus kecemasan dan kambuhnya gejala dapat menurunkan kualitas hidup, termasuk memengaruhi produktivitas kerja, pola tidur, serta aktivitas sosial.

Peran Mikrobioma Usus dalam Gangguan Pencernaan

Ilustrasi mengalami gangguan pencernaan. (Pixabay/Anastasia Gepp)

Mikrobioma usus juga memiliki peran penting dalam gangguan pencernaan yang berkaitan dengan stres kronis.

Menurut Harvard Medical School, stres dapat mengubah komposisi bakteri usus serta memengaruhi peradangan dan fungsi saluran pencernaan.

Dalam kondisi stres, jumlah bakteri baik seperti Bifidobacterium dan Lactobacillus dapat menurun. Padahal, bakteri ini berperan dalam menghasilkan asam lemak rantai pendek (short-chain fatty acids) yang penting bagi kesehatan sel-sel usus besar.

Ketidakseimbangan mikrobiota atau disbiosis, dapat melemahkan lapisan pelindung usus dan meningkatkan sinyal peradangan.

Asam lemak rantai pendek seperti butirat membantu menjaga integritas lapisan usus dan mengatur respons imun.

Ketika stres mengubah keseimbangan mikrobioma, dapat terbentuk siklus yang saling memperburuk yakni, peradangan meningkatkan kecemasan. Sementara kecemasan, semakin mengganggu stabilitas usus.

Gejala Gangguan Pencernaan Akibat Stres

Gangguan pencernaan yang dipicu stres tidak hanya terbatas pada rasa sakit di perut. Beberapa gejala lain yang sering muncul meliputi:

  • Kram perut
  • Rasa ingin buang air besar secara mendesak
  • Sensasi tidak tuntas setelah buang air besar
  • Lendir pada tinja
  • Kelelahan
  • Kesulitan berkonsentrasi atau ‘brain fog’

Selain itu, stres juga dapat memperburuk gastroesophageal reflux disease (GERD), atau penyakit refluks asam lambung.

Relaksasi otot sfingter esofagus bagian bawah akibat stres, serta lambatnya pengosongan lambung, dapat meningkatkan risiko refluks.

Faktor gaya hidup seperti konsumsi kafein, alkohol, makanan berat, atau langsung berbaring setelah makan juga dapat memperparah kondisi ini.

Baca juga: Magnesium Baik untuk Jantung, Stres, dan Gula Darah: Fakta atau Overclaim?

Cara Mengelola Gejala IBS dan Stres

Penanganan IBS yang berkaitan dengan stres, biasanya memerlukan pendekatan yang mengatasi kondisi psikologis sekaligus kesehatan usus.

Beberapa metode yang sering digunakan antara lain:

  • Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
  • Mindfulness-based stress reduction
  • Hipnoterapi yang berfokus pada usus (gut-directed hypnotherapy)

Metode tersebut bertujuan menenangkan aktivitas sumbu HPA serta menyeimbangkan sistem saraf otonom.

Teknik relaksasi seperti pernapasan diafragma, relaksasi otot progresif, dan biofeedback juga dapat membantu meningkatkan fungsi saraf vagus dan mengurangi keparahan gejala.

Peran Pola Makan dan Gaya Hidup

Perubahan pola makan juga dapat membantu mengurangi gejala gangguan pencernaan.

Salah satu pendekatan yang sering direkomendasikan adalah diet rendah FODMAP, yaitu pola makan yang membatasi karbohidrat tertentu yang mudah difermentasi dan dapat memicu kembung serta gas. Selain itu:

  • Serat larut seperti psyllium dapat membantu memperbaiki konsistensi tinja.
  • Beberapa obat, seperti antidepresan dosis rendah atau modulator serotonin pada usus, dapat membantu mengatur rasa nyeri dan pergerakan usus.

Aktivitas fisik juga berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan. Olahraga aerobik ringan hingga sedang selama setidaknya 150 menit per minggu, dapat membantu memperbaiki motilitas usus dan meningkatkan produksi serotonin.

Kualitas tidur yang baik, rutinitas harian yang konsisten, serta mengurangi paparan cahaya biru sebelum tidur, juga membantu menyeimbangkan ritme hormon stres.

Beberapa strategi nutrisi juga melibatkan asupan asam lemak omega-3, zinc carnosine, dan L-glutamine untuk mendukung kesehatan lapisan usus. Namun, penggunaan suplemen sebaiknya tetap dilakukan dengan pengawasan tenaga kesehatan.

Mengelola Stres untuk Kesehatan Pencernaan Jangka Panjang

Stres kronis dan kecemasan, dapat memperburuk gangguan pencernaan dengan mengganggu keseimbangan gut-brain axis, mengubah mikrobioma usus, serta memperkuat gejala IBS.

Mengatasi masalah ini, memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Termasuk pengelolaan stres, pola makan yang seimbang, tidur yang cukup, dan aktivitas fisik yang teratur.

Ketika sistem saraf beralih dari kondisi ‘fight or flight’ menuju keadaan yang lebih tenang, proses pencernaan menjadi lebih stabil, dan gejala dapat lebih terkendali.

Dengan menjaga kesehatan mental dan pencernaan secara bersamaan, seseorang dapat meningkatkan kualitas hidup, sekaligus mengurangi frekuensi kambuhnya gangguan pencernaan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical Daily

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU