Minggu, 07 JUNI 2026 • 09:15 WIB

Rhino Tranq Mulai Menyebar, Zat Berbahaya Ini Bisa Membuat Korban Overdosis Sulit Diselamatkan

Author

Ilustrasi obat terlarang rhino tranq, untuk penenang hewan yang dikenal di jalanan. (Freepik)

INDOZONE.ID – Krisis overdosis narkoba mulai memasuki babak baru yang lebih berbahaya. Selama ini, nalokson dikenal sebagai obat penyelamat yang mampu membalikkan efek overdosis opioid, seperti fentanyl.

Namun kini, para tenaga medis menghadapi ancaman baru yang tidak dapat diatasi dengan cara yang sama.

Zat tersebut adalah medetomidine, obat penenang hewan yang dikenal di jalanan dengan sebutan rhino tranq.

Dalam beberapa tahun terakhir, medetomidine semakin sering ditemukan dicampurkan ke dalam pasokan fentanyl ilegal di Amerika Serikat. 

Yang mengkhawatirkan, zat ini tidak merespons nalokson, sehingga meningkatkan risiko kematian akibat overdosis.

Peringatan resmi bahkan telah dikeluarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan White House Office of National Drug Control Policy (ONDCP) pada April 2026, terkait penyebaran medetomidine yang semakin luas.

Baca juga: Dari Rokok ke Narkoba: Bahaya Tersembunyi di Balik Asap yang Dianggap Sepele

Apa Itu Rhino Tranq?

Dikutip Medical Daily, medetomidine merupakan obat sedatif yang digunakan dalam dunia kedokteran hewan, untuk menenangkan hewan berukuran besar, termasuk badak dan gajah. Dari sinilah muncul julukan rhino tranq.

Secara farmakologis, medetomidine termasuk kelompok agonis alfa-2 adrenergik, serupa dengan xylazine dan clonidine.

Namun, para ahli menilai, medetomidine memiliki efek yang lebih kuat dan bertahan lebih lama dibandingkan kedua zat tersebut.

Ketika dicampurkan dengan fentanyl, medetomidine dapat menyebabkan:

  • Sedasi atau penurunan kesadaran yang sangat dalam
  • Gangguan pernapasan berat
  • Penurunan denyut jantung secara drastis
  • Risiko kematian yang lebih tinggi akibat overdosis

Penyebaran Medetomidine Meningkat Drastis

Ilustrasi Narkoba. (photo/Ilustrasi/Pexels/Szymon Shields)

Data pengawasan CDC menunjukkan, peningkatan yang sangat tajam dalam temuan medetomidine pada sampel narkoba ilegal.

Pada tahun 2023, medetomidine ditemukan dalam 247 sampel narkoba. Angka tersebut melonjak menjadi 2.616 sampel pada 2024, dan mencapai 8.233 sampel pada 2025.

Artinya, terjadi peningkatan lebih dari 3.000 persen hanya dalam dua tahun.

Analisis forensik menunjukkan sekitar 98 persen sampel yang mengandung medetomidine juga mengandung fentanyl. Hal itu mengindikasikan, kedua zat tersebut sengaja dicampurkan oleh pengedar narkoba.

Program pemantauan air limbah di berbagai negara bagian AS, bahkan mendeteksi keberadaan medetomidine setiap minggu sepanjang akhir 2025 hingga awal 2026.

Chicago Jadi Lokasi Klaster Besar Pertama

Kota Chicago menjadi wilayah pertama yang melaporkan lonjakan overdosis terkait medetomidine dalam skala besar.

Pada 11 Mei 2024, layanan darurat mencatat 50 panggilan overdosis dalam satu hari, jauh di atas rata-rata harian tahun sebelumnya yang hanya sekitar 27 kasus.

Investigasi lanjutan menemukan:

  • 12 kasus overdosis terkonfirmasi terkait medetomidine
  • 26 kasus kemungkinan besar terkait medetomidine
  • 140 kasus yang diduga melibatkan medetomidine

Baca juga: 9 Ciri Fisik Pengguna Narkoba yang Perlu Anda Waspadai

Sebanyak 16 orang harus menjalani perawatan di rumah sakit, dan satu orang dilaporkan meninggal dunia.

Sebelum kejadian tersebut, medetomidine belum pernah terdeteksi dalam pasokan narkoba di Chicago.

Mengapa Rhino Tranq Sangat Berbahaya?

Ilustrasi obat terlarang. (Pixabay)

Tantangan terbesar yang dihadapi tenaga medis adalah, fakta bahwa nalokson tidak bekerja terhadap medetomidine. Nalokson hanya dapat membalikkan efek opioid seperti fentanyl. 

Ketika seseorang mengalami overdosis akibat kombinasi fentanyl dan medetomidine, nalokson memang dapat membantu mengatasi efek fentanyl, tetapi tidak menghilangkan dampak medetomidine.

Akibatnya, pasien tampak membaik sesaat setelah diberikan nalokson, namun kemudian kembali mengalami penurunan kesadaran yang mengancam nyawa.

Dalam sejumlah kasus, pasien membutuhkan:

  • Pemantauan intensif
  • Dukungan pernapasan
  • Perawatan di unit gawat darurat
  • Obat tambahan untuk menstabilkan denyut jantung

Beberapa pasien bahkan memerlukan pemberian atropin untuk mengatasi perlambatan denyut jantung yang berat.

Gejala Putus Zat yang Berbeda dari Opioid

Bahaya lain dari medetomidine adalah, munculnya sindrom putus zat yang berbeda dengan opioid.

Pengguna yang berhenti mengonsumsi zat ini setelah pemakaian rutin dapat mengalami:

  • Tekanan darah sangat tinggi
  • Jantung berdebar cepat
  • Mual dan muntah
  • Kecemasan berat
  • Perubahan kesadaran

Karena gejalanya berbeda dari putus opioid, kondisi ini berisiko salah dikenali oleh tenaga kesehatan yang belum familiar dengan medetomidine.

Menggantikan Xylazine dalam Pasar Narkoba

Para peneliti menilai kemunculan medetomidine kemungkinan berkaitan dengan upaya penegakan hukum terhadap xylazine, zat campuran fentanyl yang sebelumnya sangat populer.

Ketika xylazine mulai menjadi target pengawasan, para produsen narkoba ilegal beralih ke alternatif lain yang memiliki efek serupa atau lebih kuat.

Dalam waktu singkat, medetomidine mulai menggantikan posisi xylazine di sejumlah wilayah.

Di Philadelphia, misalnya, xylazine ditemukan pada 97 persen sampel fentanyl pada Mei 2024. Namun enam bulan kemudian, medetomidine telah mengambil alih dan ditemukan pada 87 persen sampel fentanyl yang diuji.

Sejak Mei 2024, medetomidine juga telah dikaitkan dengan puluhan kematian akibat overdosis di kota tersebut.

Apa yang Harus Dilakukan?

Para ahli kesehatan masyarakat menilai, sistem penanganan overdosis perlu segera diperbarui untuk menghadapi ancaman baru ini.

Langkah yang direkomendasikan meliputi:

  • Memperluas pengujian forensik untuk mendeteksi medetomidine
  • Memperbarui protokol penanganan overdosis di rumah sakit
  • Meningkatkan edukasi bagi masyarakat dan pengguna narkoba
  • Memperkuat layanan pencegahan overdosis dan rehabilitasi kecanduan

Meski nalokson tetap penting dan harus tetap diberikan pada kasus overdosis yang dicurigai melibatkan opioid, tenaga medis kini harus mewaspadai kemungkinan adanya medetomidine yang memerlukan penanganan tambahan.

Kesadaran Baru dalam Krisis Overdosis

Munculnya rhino tranq menunjukkan, krisis narkoba terus berkembang dan menjadi semakin kompleks. Jika sebelumnya perhatian terfokus pada fentanyl dan xylazine, kini medetomidine menjadi ancaman baru yang berpotensi meningkatkan angka kematian akibat overdosis.

Para pakar menekankan, pendekatan lama tidak lagi cukup. Deteksi dini, pembaruan protokol medis, edukasi masyarakat, serta akses terhadap layanan pengobatan kecanduan menjadi kunci untuk menghadapi fase baru krisis overdosis yang semakin mematikan ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical Daily

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU