salah satu contoh tanda paru-paru basah yang diabaikan (freepik)
INDOZONE.ID - Sering kali, gejala paru-paru basah atau pneumonia terlihat seperti penyakit ringan, seperti sekadar batuk, lelah, atau demam biasa.
Oleh karena itulah, banyak orang tanpa sadar menyepelekannya. Padahal, di balik gejala yang tampak “biasa”, bisa jadi ada infeksi serius yang sedang berkembang di paru-paru.
Nah, agar kamu tidak telat mengetahuinya, berikut beberapa tanda-tanda paru basah yang sering diabaikan.
Saat paru-paru terinfeksi, kantong udara (alveoli) yang seharusnya berisi udara bisa terisi cairan.
Akibatnya, tubuh kesulitan mendapatkan oksigen yang cukup. Kondisi ini membuat napas terasa lebih cepat, pendek, atau bahkan sesak.
Banyak orang mengira ini hanya karena kelelahan, padahal bisa jadi tanda fungsi paru-paru sedang terganggu dan butuh penanganan segera.
Saat tubuh melawan infeksi, energi yang dibutuhkan jadi jauh lebih besar. Akibatnya, penderita pneumonia sering merasa sangat lelah, bahkan untuk aktivitas ringan.
Kelelahan ini sering disalahartikan sebagai kurang tidur atau stres. Padahal, bisa jadi tubuh sedang bekerja keras melawan infeksi yang tidak disadari.
Batuk memang umum terjadi, tapi kalau tidak kunjung membaik, ini bisa jadi tanda yang perlu diwaspadai.
Pada pneumonia, batuk biasanya berlangsung lebih lama dan disertai dahak kental berwarna kuning, hijau, atau bahkan bercampur darah.
Baca juga: Paru-Paru Basah: Waspadai Kebiasaan Sehari-Hari yang Bisa Memicu Pneumonia
Batuk ini muncul karena tubuh berusaha membersihkan cairan dan kuman dari paru-paru. Namun karena infeksinya berada di dalam jaringan paru, batuk sering tidak membaik dengan pengobatan biasa.
Rasa nyeri di dada, terutama saat menarik napas dalam atau batuk, sering dianggap sebagai pegal biasa. Padahal, ini bisa menjadi tanda peradangan pada paru-paru dan lapisan di sekitarnya.
Nyeri ini biasanya terasa tajam dan makin jelas saat bernapas. Jika muncul bersamaan dengan batuk atau sesak napas, sebaiknya tidak dianggap sepele.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: World Health Organization (WHO), Centers For Disease Control And Prevention