Press Conference Siloam Cardiac Summit 2026 (Indozone/Salsabila Az Zahra)
INDOZONE.ID - Penyakit jantung kini menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Menanggapi tantangan besar tersebut, Siloam Hospitals berkomitmen untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan kardiovaskular melalui penyelenggaraan Siloam Cardiac Summit.
Program tahunan ini bertujuan untuk memperbarui pengetahuan dan keterampilan klinis para dokter di Indonesia agar setara dengan kemajuan teknologi medis di luar negeri.
Baca juga: Ketiak Gelap Bikin Minder? Ini Cara Alami dan Perawatan Medis yang Bisa Bikin Ketiak Cerah Lagi
Dr. Grace Frelita M.M, mengungkapkan sebuah fakta yang cukup memprihatinkan, di mana negara Indonesia saat ini baru memiliki sekitar 2.000 dokter spesialis jantung yang aktif.
Padahal, untuk melayani 280 juta penduduk, idealnya dibutuhkan sekitar 5.000 dokter spesialis. Selain jumlah yang kurang, penyebaran dokter juga belum merata, terutama di wilayah Indonesia Timur.
Untuk mengatasi hal ini, Siloam berusaha melakukan berbagai upaya, mulai dari memperkuat Center of Excellence (Pusat Unggulan) hingga meningkatkan kualitas perawat yang mendampingi pasien selama 24 jam.
Selain itu, Siloam juga menerapkan sistem Hub and Spoke agar keahlian para dokter senior bisa menjangkau pasien di pelosok nusantara.
Baca juga: Temani Pemilik dari Kecil hingga Jadi Dokter Hewan, Kisah Kucing Ini Berakhir Pilu
Prof. Dr. Harry Suryapranata, M.D., Sp.JP, Ph.D., FESC, FACC, FIHA, menekankan bahwa kualitas dokter di Indonesia sebenarnya tidak kalah bagus dengan dokter yang ada di luar negeri.
Beliau bercerita bahwa motivasi utamanya kembali ke Indonesia adalah untuk menghentikan "ekspor pasien" ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Ia menuturkan bahwa ketika berada di Malaysia, mirisnya pasien-pasien yang berada di sana adalah warna negara Indonesia. Menurutnya, sangat disayangkan jika negeri sebesar Indonesia melakukan ekspor pasien.
“Saya berkomitmen kalau saya gak mau lagi ke mana-mana, setelah keliling Malaysia, Thailand, Korea, Singapura. Saya pikir, waktunya saya kembali ke Indonesia dan berdirilah Siloam Hospital ini. Saya ingin memberikan kontribusi terhadap apa yang pernah saya pelajari ke tempat saya lahir, dan memang sudah menjadi wadah bagi kami untuk berkontribusi,” tutur Prof. Harry.
Guna mendukung hal tersebut, teknologi terbaru terus dibawa masuk ke Indonesia. Prof. Harry juga bermimpi memanfaatkan internet dan kecerdasan buatan (AI) untuk melakukan pemantauan pasien jarak jauh.
Hal ini sangat penting bagi masyarakat di Indonesia Timur yang terkadang harus menempuh perjalanan laut selama tiga hari hanya untuk melakukan kontrol kesehatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan