INDOZONE.ID - Bayangin kamu lagi di tempat yang dinginnya nggak masuk akal.
Angin menusuk kulit, napas berasap, dan badan mulai menggigil hebat tanpa bisa dikontrol. Lama-lama kamu ngerasa lemas, susah fokus, pikiran agak kacau.
Terus muncul rasa ngantuk yang berat banget, pengen rebahan dan tidur aja biar “enakan”.
Padahal, kalau kondisi itu terjadi karena hipotermia, tidur justru bisa jadi keputusan yang berbahaya banget.
Hipotermia itu kondisi darurat ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35°C.
Saat itu terjadi, tubuh nggak lagi mampu menjaga fungsi penting seperti detak jantung, pernapasan, dan kerja otak dengan normal.
Baca juga: Waktu Terbaik untuk Workout Saat Puasa, Sebelum atau Sesudah Buka?
Banyak orang mengira ini cuma bisa terjadi di gunung atau di tengah salju, padahal di dalam rumah yang terlalu dingin pun bisa, apalagi kalau seseorang diam terlalu lama tanpa bergerak.
Intinya, tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada bisa memproduksinya, dan suhu dalam tubuh terus turun.
Nah, kenapa orang yang mengalami hipotermia nggak boleh tidur? Karena rasa ngantuk itu tanda tubuh sudah mulai “menyerah”.
Saat tertidur, kesadaran menurun, tubuh makin sulit mempertahankan panas, dan fungsi vital bisa melambat drastis tanpa kita sadari.
Jadi ini bukan sekadar mitos atau larangan tanpa alasan, dalam situasi seperti ini, tetap terjaga bisa jadi pembeda antara selamat atau tidak.
Baca juga: 7 Manfaat Puasa yang Jarang Disadari, Bikin Tubuh Lebih Sehat!
Hipotermia Bikin Otak dan Tubuh Rusak Perlahan
Saat seseorang mengalami hipotermia, tubuh sebenarnya langsung berusaha “melawan”. Kita otomatis menggigil supaya otot-otot menghasilkan panas.
Pembuluh darah di kulit juga menyempit supaya panas nggak cepat keluar. Itu semua adalah cara alami tubuh buat menjaga suhu inti tetap stabil.
Tapi kalau dinginnya terus berlanjut, pertahanan ini lama-lama kewalahan. Tubuh nggak sanggup lagi mempertahankan suhu normal.
Di titik itu, fungsi organ mulai terganggu. Orangnya jadi sangat lelah, mengantuk berat, sulit fokus, ngomong bisa mulai ngelantur, dan gerakan jadi nggak terkoordinasi.
Baca juga: Sering Dikira Deg-degan Biasa, Kenali Gejala Awam Penyakit Gangguan Irama Jantung
Otak mulai melambat, napas ikut melambat, dan semuanya terasa seperti “shutdown” pelan-pelan.
Yang bahaya, rasa ngantuk itu justru salah satu tanda kondisi sudah serius.
Di tahap sedang sampai berat, kemampuan berpikir jernih dan bereaksi cepat turun drastis. Kalau tubuh tetap dingin tanpa segera dihangatkan, kondisinya bisa memburuk dengan cepat.
Itulah kenapa dalam banyak panduan medis selalu ditekankan: jangan biarkan orang dengan hipotermia tertidur atau terus terlelap.
Bukan karena dramatis, tapi karena tidur membuat aktivitas otak, pernapasan, dan metabolisme secara alami ikut menurun. Dalam keadaan normal itu wajar.
Baca juga: Kemensos: Lebih dari 40 Ribu Peserta PBI JKN Ajukan Reaktivasi
Tapi kalau suhu tubuh sudah turun, penurunan aktivitas ini bisa bikin suhu inti jatuh lebih cepat lagi dan itu bisa berujung fatal.
Tidur Bikin Suhu Tubuh Turun Lebih Cepat
Selama kita masih sadar, tubuh sebenarnya masih “berjuang”. Begitu merasa dingin, kita otomatis menggigil buat bikin panas.
Kita juga bisa bergerak, menggosok tangan, cari jaket, atau pindah ke tempat yang lebih hangat. Intinya, saat sadar, tubuh dan pikiran masih bisa kerja sama buat melawan dingin.
Masalahnya, ketika orang dengan hipotermia tertidur, banyak respons ini melemah bahkan hilang.
Baca juga: Dinkes DKI: 93 Persen Warga Jakarta Kurang Aktivitas Fisik
Menggigil bisa berhenti, metabolisme ikut melambat, dan tubuh jadi nggak lagi aktif mempertahankan suhu.
Ibaratnya, sistem pertahanan yang tadi masih berusaha, sekarang ikut “turun mesin”. Akibatnya, suhu tubuh yang sudah rendah bisa turun lebih cepat lagi.
Bayangkan situasi ekstrem, seseorang tertidur di tenda atau bahkan di luar ruangan tanpa perlindungan yang cukup.
Dalam keadaan itu, tubuh yang sudah kedinginan bisa makin drop tanpa perlawanan berarti. Jantung berdetak semakin lambat, otak kekurangan oksigen, dan organ vital lain mulai terganggu.
Di titik tertentu, ini bukan cuma soal pingsan, tapi bisa berujung pada kegagalan organ hingga kematian.
Karena itu, banyak panduan medis internasional selalu menekankan hal yang sama, jaga korban tetap sadar dan tetap hangat sampai bantuan datang atau suhu tubuhnya kembali naik.
Baca juga: Gluten Free Lagi Hype! Tapi Emang Lebih Sehat atau Cuma Tren?
Langkah dasarnya sederhana tapi penting, pindahkan ke tempat yang lebih hangat, lepas pakaian basah, bungkus dengan selimut atau pakaian kering yang hangat, dan usahakan korban tetap terjaga.
Dalam kondisi hipotermia, tetap sadar bisa jadi penyelamat nyawa.
Pikiran yang Mulai Kacau Itu Juga Faktor Besar
Ketika seseorang mengalami hipotermia, kemampuan berpikir dan membuat keputusan menjadi terganggu.
Kebingungan, bicara lambat, koordinasi buruk adalah tanda bahwa kondisi sudah semakin parah.
Tidak hanya itu, rasa mengantuk yang timbul waktu hipotermia itu bukan mengantuk biasa, itu adalah refleks tubuh yang sudah kehilangan kemampuan bertahan optimal.
Baca juga: BRIN Ingatkan Risiko Kesehatan Kronis akibat Pencemaran Sungai Cisadane
Orang bisa merasa hangat meskipun suhu tubuhnya masih sangat rendah, dan ini bisa membuat mereka berpikir kalau mereka baik-baik saja padahal sebenarnya bahaya sedang menghampiri.
Begitu seseorang mulai tertidur, kita kehilangan kesempatan untuk memonitor setiap perubahan kondisi.
Misalnya, apakah napas melambat begitu cepat, apakah denyut nadi makin melemah, atau apakah respons terhadap rangsangan luar tetap.
Saat tertidur, tubuh sudah dalam mode “berhenti bertahan” dan langkah terbaik seharusnya adalah menjaga mereka tetap terjaga, bergerak, dan hangat sampai kondisi kembali stabil atau bantuan medis datang.
Baca juga: Jangan Panik! Ini Cara Tolong Orang yang Alami Kejang ‘Epilepsi Grand Mal’
Cara Tepat Menangani Hipotermia Sambil Menjaga Korban Tetap Sadar
Setelah tahu kenapa hipoteremia dan tidur itu kombinasi yang sangat berbahaya, kita juga harus tahu langkah cepat apa yang bisa dilakukan kalau menemukan korban hipotermia:
- Pindahkan korban ke tempat yang hangat secepat mungkin.
- Lepaskan pakaian basah dan ganti dengan yang kering.
- Bungkus tubuh korban dengan selimut atau pakaian tebal untuk mulai menaikkan suhu.
- Bicara perlahan dan tenang untuk menjaga mereka tetap sadar sampai bantuan datang atau suhu meningkat.
- Hindari minuman beralkohol atau pemanasan ekstrem langsung seperti mandi air panas, yang justru bisa berdampak buruk.
Baca juga: Nggak Cuma Gaya Hidup! Ini Alasan Pria Lebih Cepat Terkena Penyakit Kardiovaskular
Intinya, jangan biarkan korban beristirahat atau tidur. Setiap momen yang berlalu saat tubuh semakin dingin bisa membuatnya makin sulit bagi tubuh untuk pulih sendiri.
Hipotermia itu bukan cuma soal “kedinginan biasa”. Ini kondisi serius ketika tubuh sudah nggak mampu lagi menjaga suhu tetap di angka yang aman.
Begitu suhu inti turun, organ-organ penting mulai bekerja nggak maksimal, pikiran jadi kacau, dan sistem saraf ikut terganggu.
Kalau dalam keadaan seperti itu seseorang tertidur, artinya sisa mekanisme pertahanan tubuhnya ikut melemah.
Tubuh berhenti melawan dingin, suhu bisa turun makin jauh tanpa perlawanan, dan risiko komplikasi jadi jauh lebih besar.
Baca juga: Gak Cuma Enak, Es Krim Ternyata Baik untuk Kesehatan Mental saat Ramadhan
Itulah kenapa para ahli kesehatan selalu menekankan: orang yang mengalami hipotermia sebaiknya tidak dibiarkan tidur sampai suhu tubuhnya naik kembali, sudah mendapatkan pemanasan yang aman, dan ada bantuan medis yang siap menangani.
Dalam situasi ini, tetap sadar bukan soal sepele, itu bisa jadi penentu keselamatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber