Minggu, 12 APRIL 2026 • 13:15 WIB

Mendalami Sindrom Koroner Akut: Gejala, Penyebab, hingga Cara Penanganan yang Perlu Diketahui

Author

Ilustrasi kesehatan jantung. (Eliani Kusnedi)

INDOZONE.ID - Sindrom Koroner Akut (SKA) merupakan istilah medis yang digunakan, untuk menggambarkan berbagai kondisi akibat berkurangnya aliran darah secara tiba-tiba ke jantung. 

Kondisi ini mencakup serangan jantung (infark miokard), dan angina tidak stabil, yaitu jenis nyeri dada yang berbahaya.

Ketika aliran darah ke jantung menurun, otot jantung tidak mendapatkan cukup oksigen. Jika sel-sel jaringan jantung rusak atau mati, maka terjadilah serangan jantung.

Sementara itu, pada angina tidak stabil, penurunan aliran darah belum cukup parah untuk menyebabkan kematian sel, tetapi tetap meningkatkan risiko serangan jantung.

Sindrom koroner akut merupakan kondisi darurat medis, yang membutuhkan penanganan segera. Tujuan utama pengobatan adalah, memperbaiki aliran darah, meredakan gejala, serta mencegah komplikasi serius.

Baca juga: Bukan Diet Ketat! Ini 9 Cara Mudah Jaga Jantung Tetap Sehat

Gejala Sindrom Koroner Akut

Dikutip dari Mayo Clinic, gejala biasanya muncul secara tiba-tiba, dan dapat bervariasi pada setiap orang. Beberapa tanda yang paling umum meliputi:

  • Nyeri atau ketidaknyamanan di dada (terasa seperti ditekan, terbakar, atau sesak)
  • Nyeri yang menjalar ke bahu, lengan, punggung, leher, rahang, atau perut bagian atas
  • Mual atau muntah
  • Rasa tidak nyaman di perut seperti gangguan pencernaan
  • Sesak napas
  • Keringat dingin berlebihan
  • Detak jantung cepat atau tidak teratur
  • Pusing atau merasa melayang
  • Pingsan
  • Kelelahan yang tidak biasa

Nyeri dada merupakan gejala paling umum. Namun, pada wanita, lansia, dan penderita diabetes, gejala bisa muncul tanpa nyeri dada, sehingga sering tidak disadari.

Serangan jantung. (Photo/Ilustrasi/Pixabay)

Kapan Harus ke Dokter?

Sindrom koroner akut adalah kondisi darurat. Nyeri dada bisa menjadi tanda penyakit yang mengancam jiwa. Segera cari bantuan medis, jika mengalami gejala tersebut. Jangan mengemudi sendiri ke rumah sakit.

Penyebab Sindrom Koroner Akut

Penyebab utama sindrom koroner akut adalah, penumpukan lemak (plak) di dinding pembuluh darah jantung. Ketika plak pecah, dapat terbentuk bekuan darah yang menghambat aliran darah ke jantung.

Kekurangan oksigen akibat sumbatan ini, dapat menyebabkan kerusakan atau kematian sel otot jantung, yang berujung pada serangan jantung.

Faktor Risiko

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko sindrom koroner akut antara lain:

  • Usia lanjut
  • Tekanan darah tinggi
  • Kolesterol tinggi
  • Kebiasaan merokok
  • Kurang aktivitas fisik
  • Pola makan tidak sehat
  • Obesitas atau kelebihan berat badan
  • Diabetes
  • Riwayat penyakit jantung atau stroke dalam keluarga
  • Riwayat komplikasi kehamilan seperti preeklamsia
  • Menopause dini
  • Infeksi COVID-19

Diagnosis

Sindrom koroner akut biasanya didiagnosis di rumah sakit, melalui pemeriksaan medis dan serangkaian tes, seperti:

  • Elektrokardiogram (EKG/ECG): untuk melihat aktivitas listrik jantung
  • Tes darah: mendeteksi protein yang muncul saat terjadi kerusakan jantung

Pemeriksaan lanjutan dapat meliputi:

  • Angiografi koroner
  • Ekokardiogram
  • CT angiogram
  • Tes stres jantung
  • Pencitraan perfusi miokard

Tes-tes ini membantu dokter menentukan penyebab dan jenis kondisi, serta menentukan pengobatan yang tepat.

Pengobatan

Tujuan utama:

  • Meredakan nyeri
  • Memperbaiki aliran darah
  • Mengembalikan fungsi jantung
  • Mencegah komplikasi

Obat-obatan:

  • Penghancur bekuan darah (trombolitik)
  • Nitrat (misalnya nitrogliserin)
  • Obat antiplatelet seperti aspirin
  • Beta blocker
  • ACE inhibitor
  • ARB (Angiotensin Receptor Blocker)
  • Statin penurun kolesterol

Baca juga: Enggak Hanya Deteksi Kanker Payudara, Mammografi Bisa Ungkap Risiko Penyakit Jantung

Tindakan medis:

  • Angioplasti dan pemasangan stent: Membuka pembuluh darah yang tersumbat
  • Operasi bypass jantung (CABG): Membuat jalur baru aliran darah ke jantung

Perubahan Gaya Hidup untuk Mencegah

Selain pengobatan medis, perubahan gaya hidup sangat penting untuk menjaga kesehatan jantung:

  • Berhenti merokok
  • Konsumsi makanan sehat (buah, sayur, biji-bijian)
  • Rutin berolahraga minimal 30 menit
  • Mengontrol kolesterol dan tekanan darah
  • Menjaga berat badan ideal
  • Mengelola stres
  • Membatasi konsumsi alkohol
  • Tidur cukup 7–9 jam per hari

Oleh karena itu, diperlukan mengenali gejala sejak dini, memahami faktor risiko, serta menjalani gaya hidup sehat, agar dapat membantu menurunkan risiko dan menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang.

Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala mencurigakan, segera cari pertolongan medis untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Mayo Clinic

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU