Ilustrasi seseorang mengalami Konjungtivitis alias mata merah. (Freepik)
INDOZONE.ID - Pterigium merupakan pertumbuhan jaringan abnormal pada konjungtiva, yaitu selaput bening yang menutupi bagian putih mata, serta dapat meluas ke kornea.
Dikutip dari American Optometric Association, kondisi tersebut sering kali ditemukan pada orang yang tinggal di wilayah tropis, termasuk Indonesia.
Pterigium paling sering terjadi akibat paparan sinar matahari (ultraviolet/UV) dalam jangka panjang. Pertumbuhan jaringan ini, bisa berlangsung selama beberapa bulan hingga bertahun-tahun.
Oleh karena itulah, orang yang banyak beraktivitas di luar ruangan memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan ini.
Baca juga: Memahami Kondisi Nistagmus: Gangguan Penglihatan Akibat Gerakan Mata Tidak Terkendali
Penderita pterigium umumnya mengalami beberapa gejala, di antaranya:
Pterigium dapat didiagnosis melalui pemeriksaan mata menyeluruh oleh dokter mata. Dokter biasanya menggunakan mikroskop untuk menilai struktur bagian depan mata.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan penampilan jaringan yang tumbuh dari bagian putih mata, hingga menutupi kornea. Umumnya, jaringan tampak berwarna putih, datar atau menonjol, dan bisa terjadi di kedua mata.
Mata merah tanda virus corona (Istimewa)
Penanganan pterigium tergantung pada tingkat keparahannya.
Pencegahan pterigium dapat dilakukan dengan langkah-langkah sederhana, terutama saat beraktivitas di luar ruangan:
Oleh karena itu, pterigium bukan hanya masalah kosmetik pada mata, tetapi juga bisa memengaruhi kualitas penglihatan jika dibiarkan.
Deteksi dini dan perlindungan mata dari paparan sinar UV, menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi ini berkembang lebih parah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: American Optometric Association