sosis (pexels @Towfiqu barbhuiya)
INDOZONE.ID - Makanan yang praktis, sering kali menjadi pilihan utama dalam kehidupan modern yang serba cepat ini.
Namun, di balik kemudahan tersebut, produk pangan yang diproses ultra (UPF) sekarang menjadi perhatian ahli gizi dan medis di seluruh dunia. Dampaknya pada tubuh sangat berbeda dari makanan olahan biasa.
Untuk menjaga kualitas hidup kamu dan keluarga, sangat penting untuk memahami risiko jangka panjang makanan yang ultraproses.
Sangat penting untuk meluruskan keyakinan bahwa, tidak semua makanan yang dikemas dalam plastik adalah "ultra proses".
Secara teknis, terdapat perbedaan yang signifikan dalam bagaimana makanan tersebut diproses.
Makanan olahan (processed food) biasanya mempertahankan kualitas bahan dasarnya. Sayuran beku dan ikan tuna kaleng adalah contohnya.
Proses pengolahannya sederhana, seperti memanaskan atau menambah garam dan minyak untuk mengawetkan.
Sebaliknya, ultra processed food adalah hasil dari proses industri yang kompleks. Komponen biasanya diambil dari makanan asli seperti kasein, laktosa, gluten, atau minyak yang dihidrogenasi.
Penggunaan zat aditif yang tidak pernah kamu temui di dapur rumah, seperti pemanis buatan, pewarna sintetis, pengemulsi (emulsifier), dan penguat rasa (MSG) yang berlebihan, adalah karakteristik makanan ultra proses yang paling menonjol.
Baca juga: 9 Makanan Setelah Donor Darah Biar Nggak Lemas, Wajib Dikonsumsi Nih!
Tanpa kita sadari, rak supermarket didominasi oleh produk-produk UPF.
Produk ini dirancang agar memiliki rasa yang "nagih" (hyper-palatable) dan masa simpan yang sangat lama.
Berikut adalah beberapa contoh yang paling umum dikonsumsi:
Mengapa para ahli kesehatan begitu gencar memperingatkan masyarakat? Masalah utamanya bukan hanya pada apa yang dikandungnya, tetapi pada apa yang "hilang" darinya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Parkwaycancercentre.com