Ilustrasi ibu dan anak (Pexels/Pixabay)
INDOZONE.ID - Derasnya arus informasi parenting di internet terkadang membuat batas antara kewaspadaan dan kecemasan menjadi kabur.
Sering kali, ibu yang bersikap siaga justru mendapat label terlalu khawatir.
Padahal, insting tersebut biasanya dipicu oleh perubahan kecil pada anak, seperti perilaku rewel atau kondisi kulit yang mulai memerah.
Dilema ini menciptakan perdebatan internal dalam diri orang tua: apakah harus mengikuti logika yang menyarankan untuk tenang, atau mendengarkan intuisi yang mendeteksi adanya gejala awal gangguan kesehatan pada sang buah hati.
Baca juga: 7 Makanan Pengganti Nasi yang Bantu Turunkan Berat Badan Lebih Cepat
Kekhawatiran tersebut seringkali diredam dengan penjelasan yang terdengar masuk akal seperti fase pertumbuhan atau perubahan mood biasa.
Namun, kemunculan gejala fisik tidak biasa yang dideteksi melalui suara hati seorang ibu sebenarnya merupakan indikasi awal bahwa si kecil memerlukan perhatian lebih lanjut.
Dokter spesialis anak, dr. Ian Suteja, menjelaskan melalui konten edukasinya yang dikutip dari TikTok @iansuteja bahwa suara hati atau pengamatan seorang ibu sebenarnya adalah instrumen medis paling awal dalam kehidupan seorang anak.
Dia menekankan bahwa dalam banyak kasus, sosok yang paling memahami kondisi kesehatan anak adalah orang tuanya sendiri.
Konten edukatif dokter Ian. (TikTok/@dr.iansuteja)
"Ingat ya, dokter anak terbaik itu adalah ya bundanya sendiri," ujar dokter Ian dalam unggahannya.
Ia mendorong para ibu untuk mulai menggunakan pengamatan tajam mereka yang mampu menyadari perubahan-perubahan kecil pada anak.
Kewaspadaan ini bukan sekadar ketakutan tanpa dasar, melainkan sinyal awal yang sangat penting untuk mendeteksi kemungkinan adanya gangguan kesehatan sejak dini.
Ian menjelaskan bahwa gejala suatu kondisi kesehatan tidak selalu terlihat jelas dan bisa muncul dengan tanda yang berbeda pada setiap anak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: TikTok @dr.iansuteja